Pemerintah Siapkan Langkah Strategis Sektor Energi Guna Menjawab Tantangan Geopolitik
JAKARTA- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis di sektor energi. Langkah ini dilakukan untuk menjawab tantangan geopolitik saat ini.
Konflik geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan, ketegangan perdagangan antarnegara, hingga fluktuasi harga energi dunia, mendorong pemerintah memperkuat peran sumber energi domestik dalam memenuhi kebutuhan nasional.
Menurut Bahlil, kondisi geopolitik global saat ini bisa diibaratkan seperti penyakit malaria yang sulit diprediksi perkembangannya. Menurutnya, situasi dunia dapat berubah sangat cepat dan berdampak langsung terhadap rantai pasok maupun harga energi.
"Sulit bagi kita untuk menjadikan baseline mana yang akan dijadikan sebagai rujukan," ujarnya, seperti dilansir dari situs Kementerian ESDM.
Menyikapi hal itu, pemerintah mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis yang diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi, mulai dari Liquefied Petroleum Gas (LPG), Bahan Bakar Minyak (BBM), maupun minyak mentah.
Salah satu program yang tengah dipersiapkan pemerintah adalah pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG bersubsidi 3 kg. Program yang telah memasuki tahap uji coba ketiga tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor dengan memanfaatkan pasokan gas domestik yang melimpah.
Pemerintah juga mempercepat implementasi biodiesel B50 yang ditargetkan mulai beredar pada Juli 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen utama untuk mengurangi impor solar sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri berbasis minyak sawit.
"Besok Juli akan kita resmikan B50. Itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita," ungkap Bahlil.
Meski fokus pada peningkatan pasokan dalam negeri, pemerintah tetap membuka opsi diversifikasi sumber impor energi. Salah satunya melalui kajian potensi impor minyak mentah dari Rusia yang saat ini sedang dilakukan oleh lembaga teknis di bawah Kementerian ESDM.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan Indonesia memiliki alternatif pasokan apabila terjadi gangguan pada pasar energi global.
Di sektor hulu migas, pemerintah juga berupaya mempercepat proyek-proyek strategis yang selama ini berjalan lambat. *