Raksasa Migas Ramai-ramai Hamburkan Duit untuk Ekspansi, Ternyata Ini Penyebabnya
JAKARTA- Harga minyak dunia saat ini kembali melonjak sebagai buntut dari panasnya perang Iran. Lonjakan harga ikut mendongkrak investasi di sektor tersebut. Sejumlah raksasa Migas dunia, dikabarkan ramai-ramai menghamburkan duit untuk melakukan ekspansi.
Dilansir dari cnbcindonesia, kondisi yang terjadi saat ini memang bertolak belakang dari prediksi awal.
Awalnya, tahun 2026 diperkirakan bakal menjadi periode suram bagi perusahaan minyak dunia. Pasokan global yang melimpah bahkan sempat memunculkan kekhawatiran akan terjadinya super glut atau kelebihan pasokan besar-besaran.
Harga minyak mentah Brent sebelumnya diproyeksikan turun hingga di bawah US$60 per barel, setelah rata-rata berada di sekitar US$68 per barel pada 2025 dan US$80 per barel pada 2024.
Namun, eskalasi perang di kawasan Selat Hormuz membalikkan proyeksi tersebut.
Gangguan terhadap produksi dan jalur pengiriman minyak, mendorong harga minyak menembus level tiga digit. Sejumlah analis kini memperkirakan rata-rata harga Brent dapat mencapai US$85 per barel atau lebih sepanjang 2026. Bahkan, harga berpotensi menembus US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal di Selat Hormuz terus berlanjut.
Bila dunia tercekik dengan lonjakan harga minyak tetapi tidak demikian dengan industrinya. Lonjakan harga tersebut menjadi berkah besar bagi industri minyak dan gas global.
.Kondisi ini berpotensi membuka jalan bagi gelombang eksplorasi dan akuisisi yang dapat membentuk arah industri hingga akhir dekade ini.
Jika level harga yang berlangsung saat ini terus bertahan, membuka proyek baru akan semakin layak secara ekonomi. Apalagi kebutuhan untuk menambah cadangan minyak juga makin mendesak.
Pasalnya, produksi dari ladang minyak lama terus menurun. Wood Mackenzie memperkirakan produksi minyak dan gas global bisa berkurang hingga 31 juta barel per hari pada 2040, hampir seperlima dari produksi saat ini. Sekitar 70 perusahaan bahkan berisiko kehilangan separuh produksinya.
Dengan harga minyak dunia yang selangit, membuka peluang bagi raksasa minyak untuk mengembangkan usaha.
Ekspansi atau memperluas areal eksplorasi menjadi salah satu pilihan utama.
Sejumlah pemain besar dikabarkan mulai menguasai wilayah eksplorasi luas dan menggunakan AI untuk mencari lokasi pengeboran potensial.
Wilayah yang dibidik tersebar dari lepas pantai Namibia dan Afrika Selatan hingga Mediterania Timur, Uruguay, Vietnam, dan Papua Nugini. Di sejumlah negara lain, perusahaan juga mencoba meniru model shale Amerika Serikat atau meningkatkan produksi dari ladang yang sudah matang.
Jalur yang lebih cepat adalah akuisisi. Setelah sempat tertahan akibat volatilitas harga minyak, aktivitas merger dan akuisisi mulai kembali meningkat. *