Upaya Pemegang Saham Tangani Persoalan PT. BSP, Akademisi Ajak Kawal Bersama
PEKANBARU– Sejumlah langkah dinilai telah dilakukan pemegang saham untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di PT Bumi Siak Pusako (BSP). Hal itu disampaikan Prof. Dr. Eng. Ir. Muslim, S.T., M.T., dalam keterangannya di Pekanbaru, Rabu (25/2/2026).
Menurut Guru Besar Universitas Islam Riau (UIR) itu, terkait kerja sama KKP, BSP telah membentuk tim untuk menyusun dokumen pedoman kerja sama. Selain itu, untuk rencana pembangunan pipa baru juga telah dibentuk tim yang kini tengah melakukan studi kelayakan bersama tim independen.
“Upaya yang dilakukan pemegang saham patut kita apresiasi, karena sudah ada pembentukan tim dan proses kajian yang berjalan,” ujarnya.
Prof Muslim menambahkan, wacana pelaksanaan Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) untuk Direktur BSP juga mulai dibuka dan direncanakan akan dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, hampir seluruh BUMD di Kabupaten Siak dijadwalkan menjalani UKK bagi jajaran direksi.
Meski demikian, ia mengakui banyak pihak berharap agar kewajiban UKK dan persoalan pembangunan pipa dapat segera dituntaskan.
Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengawal proses tersebut serta memberikan masukan yang positif.
“Keterbukaan menerima masukan dan membuka diri terhadap mitra kerja sama KKP serta solusi persoalan pipa akan membantu mempercepat penyelesaian,” kata Prof. Muslim.
Dalam kondisi BSP saat ini, lanjut Prof. Muslim, komunikasi intensif antara pemegang saham dan SKK Migas dinilai sangat diperlukan. Ia menyebut komunikasi dan diskusi telah beberapa kali dilakukan, termasuk pertemuan langsung dengan Kepala SKK Migas.
Diharapkan, pertemuan tersebut dapat memberi perhatian dan dukungan agar BSP mampu bangkit dari kondisi yang dihadapi saat ini. Upaya tersebut juga menjadi sinyal bahwa pemegang saham tidak tinggal diam terhadap situasi yang terjadi.
Prof. Muslim juga menyoroti persoalan nonteknis yang dinilai sangat berpengaruh terhadap produksi migas. Di antaranya keamanan aset, seperti pencurian kabel dan minyak mentah, fluktuasi harga minyak, regulasi, serta faktor sosial dan lingkungan.
Ia mencontohkan, apabila terjadi aksi demonstrasi masyarakat hingga penutupan akses menuju sumur minyak, hal tersebut dapat menghambat transportasi dan berdampak langsung pada produksi.
“Lapangan migas BSP yang sudah tergolong tua memiliki persoalan teknis yang kompleks. Karena itu, masalah nonteknis harus ditangani secara bijak agar tim dapat lebih fokus menyelesaikan persoalan teknis dan tidak terbebani persoalan lain,” ujar
Prof. Muslim. (*)