JAKARTA- Minat negara lain untuk berinvestasi di sektor Migas di Tanah Air, hingga saat ini cukup tinggi. Yang terbaru, Malaysia dan Jepang menyatakan minat berinvestasi di blok migas yang berada di Provinsi Aceh.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal.
Dikatakan, hingga awal April 2026, setidaknya BPMA telah menerima tiga pengajuan surat resmi dari calon investor.
“Ini menunjukkan bahwa potensi migas Aceh masih sangat menjanjikan dan mulai kembali dipercaya oleh investor, baik dari dalam maupun luar negeri,” kata Nasri dalam keterangannya, seperti dilansir dari situs Oil dan Gas Indonesia.
Ditambahkannya, dari tiga perusahaan yang tertarik tersebut, dua di antaranya berasal dari Jepang dan Malaysia.
Wilayah Andaman III (eks Repsol) diminati konsorsium Jepang yang terdiri dari Japex dan Jogmec. Sementara itu, Wilayah Kerja (WK) Lhokseumawe (eks Zaratex) menarik minat kolaborasi PT Energi Hijau Biru dengan Barakah Petroleum asal Malaysia melalui skema joint study.
Adapun, WK South Block A (eks KRX) diajukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Pembangunan Aceh (PEMA) untuk menjadi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
“Alhamdulillah, dalam satu tahun terakhir BPMA mendapatkan kepercayaan dari investor dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di Aceh,” ungkap Nasri.
Selain memperkuat posisi Aceh dalam peta energi nasional, peningkatan investasi ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan daerah.
Skema penerimaan tetap mengacu pada ketentuan nasional, di mana pendapatan migas masuk sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebelum kemudian dibagi antara pemerintah pusat dan daerah.
“Komposisinya 70 persen untuk Aceh dan 30 peesen untuk pemerintah pusat,” jelasnya. *