Kerek Produksi Minyak, PT Bumi Siak Pusako Targetkan Sumur Baru
Tingginya angka konsumsi bahan bakar dalam negeri yang menembus 1,7 juta barel per hari mendorong perusahaan daerah PT Bumi Siak Pusako (BSP) untuk mengambil langkah meracik kembali strategi pembenahan fasilitas guna mengerek produktivitas energi dari Bumi Lancang Kuning.
Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur PT BSP, Robi Junipa saat acara coffee morning bersama pimpinan redaksi yang tergabung dalam Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Riau, Kamis (20/8/2026).
Sebagai satu-satunya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) migas di Indonesia, BSP mengemban amanah besar. Robi memastikan wilayah kerja yang dikelola perusahaannya memiliki standar keselamatan dan operasional setara dengan perusahaan multinasional.
Tambal Defisit Energi Nasional
Robi menyoroti kesenjangan antara konsumsi dan kemampuan lifting nasional yang kini hanya berada di kisaran 590 ribu hingga 601 ribu barel per hari. Kondisi ini memaksa negara menanggung beban impor yang sangat berat.
Kehadiran industri hulu migas di Riau diharapkan mampu menutupi jurang defisit pasokan energi tersebut. Secara historis, ladang minyak di Riau pernah menyumbang 75 hingga 85 persen pemasukan devisa nasional selama kurang lebih 50 tahun.
Pengeboran Sumur Baru
Demi melanjutkan catatan sejarah tersebut, manajemen baru menetapkan visi teknis bertajuk "Fix the Flow, Unlock the Value". Rencana kerja jangka pendek ini menempatkan perbaikan fasilitas perpipaan sebagai prioritas utama.
"Fokus pada tiga hal, yakni kepatuhan tata kelola, peningkatan produksi, dan tercapainya komitmen kerja pasti," urainya.
Manajemen menjelaskan bahwa sebenarnya penyelesaian aktivitas pengeboran sumur baru bisa dilaksanakan dalam waktu 12 minggu jika segala urusan administrasi dan dinamika sosial sudah dituntaskan.
"Karena itu, jika berbagai persoalan bisa diselesaikan lebih cepat, dalam lima tahun, produksi BSP bisa naik dua kali lipat," pungkasnya. *